Objek Kajian ‘Ilmu Ma’ani, berupa Kalâm Khabar, Kalâm Insya’, al-Qishr, Îjaz, Ithnab dan Musâwah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pengkajian sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah. Sebelum mengkaji sesuatu secara mendalam, perlu diketahui sebelumnya objek kajian apa saja yang terkandung dalam kajian tersebut, karena pengetahuan tentang sesuatu akan lebih mudah dipelajari dengan metode dan kajian yang sistematik.
Ilmu Balâghah, sebagaimana ilmu lain berangkat dari sebuah proses penalaran untuk menemukan premis-premis pengetahuan yang dianggap benar untuk kemudian disatukan menjadi kumpulan teori. Setelah teori itu terkumpul secara generik dengan pembagian-pembagian yang sepesifik, maka ada kecenderungan untuk mempelajari bagian-bagian tersebut secara parsial banyak yang menyebut al-Sakkâki sebagai tokoh yang mengubah balâghah dari shinâ’ah menjadi ma’rifah dari induktif menjadi deduktif. Dari paparan tersebut tersirat bahwa setiap ilmu mempunyai obyek kajian yang membatasi ruang gerak keilmuan tertentu, agar jelas dan tidak mengaburkan pembahasan.
Sastra yang merupakan ekspresi merdeka, bukan sesuatu yang tanpa aturan dan rumusan. Hal ini bisa dibuktikan dengan munculnya beragam ilmu sastra yang menentukan kualitas karya saatra yang dianalisa. Dalam tradisi ilmu sastra Arab, balâghah setelah menjadi ilmu mempunyai rumusan-rumusan tertentu yang digunakan sebagi basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan dan ke-balâghah-an karya sastra. Balâghah merupakan ilmu sastra di atas kajian morfologi dan sintaksis, kajian balâghah berpijak pada kedua ilmu tersebut, yang secara teori prasyarat mempelajari balagah harus menguasai morfologi (sharf) dan sintaksis (nahw). Makalah ini secara ringkas berusaha untuk mendeskripsikan objek kajian ‘Ilmu al-Balâghah.

1.2. Batasan Masalah
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Objek Kajian Ilmu Ma’ani, berupa Kalâm Khabar, Kalâm Insya’, al-Qishr, Îjaz, Ithnab dan Musâwah.

1.3. Metode pembahasan
Dalam hal ini penulis menggunakan:
1. Metode Deskriptif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu Objek Kajian Ilmu Ma’ani, berupa Kalâm Khabar, Kalâm Insya’, al-Qishr, Îjaz, Ithnab dan Musâwah.
2. Penelitian Kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan-bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang akan di jelaskan.

BAB II
PEMBAHASAN
Objek Kajian ‘Ilmu Ma’ani, berupa Kalâm Khabar, Kalâm Insya’,
al-Qishr, Îjaz, Ithnab dan Musâwah
2.1. Pengertian ‘Ilmu Ma’ani
‘Ilmu Ma’âni adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat berbahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Tujuan ‘ilmu al-ma’âni adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur (Ahmad Hasyimi, 1994: 39-40).
Dari terminologi ‘ilmu al-ma’âni yang ingin menyelaraskan antara teks dan konteks, maka obyek kajiannya-pun berkisar pada pola-pola kalimat berbahasa arab dilihat dari pernyataan makna dasar ashly, bukan tab’iy yang dikehendaki oleh penutur. Menurut as-Sakkâki, yang dikehendaki oleh pembacaan model ma’âni bukan pada struktur kalimat itu sendiri, akan tetapi terdapat pada “makna” yang terkandung dalam sebuah tuturan. Jadi yang terpenting dalam pembacaan ma’ani adalah pemahaman pendengar terhadap tuturan penutur dengan pemahaman yang benar, bukan pada tuturan itu secara otonom (Yusuf ibn Abi Bakar Ya’kub ibn ‘Ali al-Sakkaki, 1987: 161).
2.2. Objek Kajian ‘Ilmu Ma’ani
Adapun objek kajian Ilmu Ma’ani adalah tema-tema berikut, (1) Kalâm Khabar (2) Kalâm Insya’ (3) al-Qishr (4) Îjaz, Ithnab dan Musâwah.
1. Kalâm Khabar (Statement Sentence)
Kalâm Khabar atau kalimat berita adalah kalimat yang penuturnya bisa dikatakan jujur atau bohong. Penutur dikatakan jujur jika kalimatnya sesuai dengan fakta, dan dikatakan bohong jika kalimatnya tidak sesuai dengan fakta (‘Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, 1977: 139). Contoh kalâm khabar “purnama telah datang dan pekat-pun berlalu”, bisa saja berita ini benar bisa juga salah. Adapun tujuan kalimat berita (kalâm khabar) bermacam-macam, diantaranya;
• Sebagai permohonan belas kasihan (istirhâm), contoh:
إني فقير إلى عفو ربي
• Menampakkan kelemahan dan kepasrahan , contoh:
إني وهن العظم مني واشتعل الرأس شيبا
• Penyesalan dari sesuatu yang diharapkan, contoh;
إني وضعتها أنثى
Dilihat dari sisi susunan gramatikalnya kalâm khabar dibagi kedalam dua bentuk (Haddam Banna’, tth, 13-16) :
 Pertama: al-jumlah al-fi’liyyah (verbal sentence), menunjukkan suatu pekerjaan yang temporal, dengan tiga keterangan waktu, sekarang, yang telah berlalu dan yang akan datang. Contoh:
أشرقت الشمس وقد ولى الظلام هاربا
 Kedua: al-jumlah al-ismiyah (nominal sentence), biasanya untuk menentukan ketetapan sifat kepada yang disifati dan untuk menyatakan kebenaran umum (general thuth). Contoh:
الأرض متحركة والشمس مشرقة
2. Kalâm Insya’(originative sentence)
Kalâm Insya’ adalah kalimat yang penuturnya tidak bisa dinilai bohong ataupun jujur (‘Ali al-Jarim dan Musthafa Amin, 1977: 139). Kalâm insya’ dibagi kedalam dua bagian, yaitu (1) Insya’ thalaby (2) Insya’ ghairu thalaby.

a. Insya’ thalaby
Insya’ thalaby adalah kalimat yang menghendaki suatu permintaan yang belum diperoleh saat meminta. Insya’ thalaby dibagi kedalam lima macam, yaitu (Haddam Banna’, tth, 22) :
1) Al-`amr.
Al-`amr adalah meminta terlaksananya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas dari penutur untuk melaksanakan perintah. Dilihat dari bentuk kalimatnya, al-`amr dalam bahasa Arab memiliki empat bentuk, yaitu:
a) Fi’il `amr, contoh:
يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَءَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا (مريم:12)
b) Fi’il mudhâri’ yang bersambung dengan lâm al-`amr, contoh:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ (الطلاق:7)
c) Ism fi’il al-`amr, contoh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَيَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ إِذَااهْتَدَيْتُمْ َ (المائدة:105)
d) Mashdar sebagai ganti fi’il `amr, contoh:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا (البقرة:83)
Selain model pola kalimat al-`amr juga memiliki beberapa fungsi makna, diantaranya:
a) Al-du’a` (do’a), contoh:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ (النمل:19)
b) Al-Irsyâd (petuah bijak), contoh:
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ (البقرة:282)
c) Al-Tahdîd (ancaman), contoh:
الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَاشِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (فصلت:٤٠)
d) Al-Ta`jîz (melemahkkan), contoh:
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (البقرة:٢٣)
e) Al-Ibâhah (pembolehan), contoh:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ (البقرة:١٨٧)
2) Al-Nahy
Al-nahy adalah meminta dihentikannya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas dari penutur untuk melaksanakan permintaan. Struktur kalimatnya disusun dengan menyambungkan fi’il mudhâri’ dengan lâ nâhiyah ( berarti: jangan..!) (‘Ali Jarim dan Musthafa Amin, 1977: 184-187) contoh:
وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ (الأعرف:85)
Seperti halnya amr, struktur nahy juga memiliki beberapa fungsi makna, diantaranya:
a) Al-du’â`(berfungsi sebagai do’a), contoh:
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ (ال عمران:8)
b) Al-Irsyâd ( memberi petuah bijak), contoh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ… (المائدة:101)
c) Al-Dawâm (keabadian), contoh:
وَلاَتَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ اْلأَبْصَارُ (إبراهيم:42)
d) Al-Tahdîd (ancaman), contoh:
لا تطع أمري ايها الأخ..
e) Al-Tamannî (pengharapan), contoh:
يا ليل طل يا نوم زل * يا صبح قف لا تطلع
3) Al-Istifhâm,
Al-Istifhâm adalah mencari tahu tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, dengan menggunakan adât al-istifhâm (kata sandang untuk istifhâm), yaitu: hamzah, hal, man, mâ, matâ, ayyâna, kayfa, aina, kam dan ayyu . Dilihat dari segi bentuk permintaannya, istifhâm dibagi menjadi tiga macam, yaitu (Haddam Banna’, tth, 29-38):
a) Pertanyaan yang kadang meminta konfirmasi dan kadang meminta afirmasi (tashawwur). Adât yang digunakan adalah hamzah, contoh:
أ علي مسافر أم خالد؟
أ علي مسافر؟
b) Pertanyaan yang meminta afirmasi saja, adât al-istifhâm yang digunakan adalah hal.contoh:
هل يعقل الحيوان؟

c) Pertanyaan yang meminta konfirmasi saja. Adât yang digunakan adalah semua adât al-istifhâm kecuali hal dan hamzah.contoh:
يسئلونك عن الساعة أيان مرسها؟
4) al-Tamannî
Al-Tamannî adalah mengharapkan sesuatu yang mustahil digapai atau yang tidak mampu digapai (‘Ali Jarim dan Musthafa Amin, 1977: 206-207).
a) Sesuatu yang mustahil digapai, contoh:
ألا ليت الشباب يعود يوما * فأخبره بما فعل المشيب
b) Sesuatu yang mungkin digapai namun tidak mampu teraih, contoh:
يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآأُوتِىَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (القصص:79)
Al-Tamannî memiliki satu `adât ashly yakni ليت dan mempunyai tiga `adât yang tidak ashly sebagai penggantinya, yaitu:
a) Hal (apakah, adakah, akankah…), contoh:
فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشْفَعُوا لَنَآ أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ قَدْ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنهُم مَّاكَانُوا يَفْتَرُونَ (الأعراف:53)
b) Lau (jika, sekiranya..), contoh:
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (الشعراء:102)
c) La’alla( niscaya…), contoh:
أسرب القطا هل من يعير جناحه * لعلي إلى من قد هويت أطير
5) al-Nidâ’
al-Nidâ’ adalah meminta kedatangan sesorang atau sesuatu dengan kata ganti yang bermakna “aku memanggil”. Ada delapan kata sandang dalam istifhâm, yaitu: hamzah, aiy, yâ, wâ, âa, ayâ, hayâ dan wâ. Hamzah dan aiy berfungsi untuk memanggil sesuatu yang berada di dekat pemanggil, sedangkan `adât yang lain untuk sesuatu yang jauh dari pemanggil. Contoh (‘Ali Jarim dan Musthafa Amin, 1997: 210-212):
أيا جميع الدنيا لغير بلاغة * لمن تجمع الدنيا و أنت تموت
Selain berfungsi memanggil, al-nidâ’ memiliki makna yang beragam seiring konteks yang melingkupinya, macam-macam arti nidâ’ antara lain:
a) Al-Ighrâ` (bujukan, anjuran), seperti anjuran kepada seseorang yang mondar mandir mau masuk rumah musuhnya:
يا شجاع أقدم..
b) Al-Zijr (hardikan, cacian), contoh:
يا فؤدي متى المتاب ألما * تصح والشيب فوق رأس ألما
c) Al-Tahassur wa al-taujî` (penyesalan dan kesakitan), contoh:
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَالَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا (النباء:40)
d) Al-Istighâtsah (permintaan pertolongan), contoh:
يا ألله…. حبي وهوائي مكتوم إليها
e) Al-Nudbah (ratapan), contoh:
فواعجبا كم يدعي الفضل ناقص * ووا أسفا كم يظهر النقص فاضل
b. Insya’ Ghair Thalaby
Insya’ Ghairu Thalaby adalah kalimat yang didalamnya tidak menghendaki suatu permintaan. Insya’ ghairu thalaby bisa berbentuk, al-Madh wa al-Dzam,Shiyâgh al-’Uqûd, al-Qasam dan al-Ta’ajjub wa al-Raja’. Contoh (Ahmad Hasyimi, 1994: 6) :

a) al-Madh wa al-Dzam,menggunakan kata ni’ma, bi`sa dan habbadza, contoh:
نعم الكريم حائم…. وبئس البخيل مادر
b) Shiyaghu al-’Uqûd. kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:
بعتك هذا ووهبتك ذاك
c) al-Qasam, menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:
لعمرك ما فعلت كذا
d) al-Ta’ajjub, biasanya berisi dua pernyataan yang berkebalikan, contoh:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم (البقرة:28)
e) al-Raja’, biasanya menggunakan, ‘asâ, hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa, contoh:
عسى الله أن يأتي بالفتح
3. Al-Qishr (rhetorical restriction)
Al-Qishr berarti mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan cara yang khusus pula, kata pertama adalah al-maqsûr (yang mengkhususkan) dan kata yang kedua adalah al-maqsûr ‘alaihi (yang dikhususkan) (Ahmad Hasyimi, 1994: 154). Metodologi pembentukan qishr ada empat macam yaitu:
a) Al-nafyu wa al-istitsnâ`, contoh:
ما شوقي إلا شاعر وما شوقي إلا شاعر
b) Innamâ, contoh:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا (الفاطر:28)
c) Mendahulukan kata yang seharusnya berada diakhir, contoh:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (الفاتحة:5)
d) Athaf dengan lâ, bal dan lakin, contoh:
عمر الفتى ذكره لا طول مدته * وموته حزيه لا يومه الداني
 Qishr dilihat dari eksistensinya ada dua macam:
Pertama: Qashr Haqîqy yaitu pengkhususan sesuatu berdasarkan realitas kenyataan tuturan dan tidak keluar dari itu. Contoh, لا إله إلا الله
Kedua: Qashr idhôfi yaitu pengkhususan sesuatu yang didasarkan pada penyandaran sesuatu yang berada diluar ujaran. Contoh:
إنما حسن شجاع

4. Îjaz (brachylogi), Ithnab (periphrasis), Musâwah (equality)
a. Îjaz adalah adanya makna yang luas dibalik kalimat yang pendek. Îjaz ada dua macam, ada kalanya Qishr (meringkas) dan ada kalanya Hadf (membuang) (Haddam Banna’, tth: 66-67). Contoh:
ولكم فى القصاص حياة يا أولى الألباب (القصر)
وجاهد فى الله حق جهاده (الحذف)
b. Ithnab adalah menambah kata-kata dari makna yang sebenarnya untuk tujuan tertentu (Gorys Keraf, 2004: 133-134). Contoh:
تنزل الملائكة و الروح فيها
c. Musâwah adalah kalimat dimana kata-katanya sepadan dengan maknanya dan maknanya sepadan dengan kata-katanya, tidak lebih dan tidak kurang.
ستبدى لك الأيام ما كنت جاهلا * ويأتيك بالأخبار من لم تزود
5. Al-Fashl dan al-Washl
Al-Washl adalah menyambungkan kalimat dengan kalimat yang lainnya dengan huruf wawu (Ahmad Hasyimi , 1994: 170-171). contoh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة:119)
Al-Fashl adalah kebalikan dari al-washl, yakni tidak menyambungkan antara dua kalimat, contoh:
وَلاَتَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَالسَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (فصلت:34)

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
‘Ilmu Ma’âni adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat berbahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Tujuan ‘ilmu al-ma’âni adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur.
Dari terminologi ‘ilmu al-ma’âni yang ingin menyelaraskan antara teks dan konteks, maka obyek kajiannya-pun berkisar pada pola-pola kalimat berbahasa arab dilihat dari pernyataan makna dasar ashly, bukan tab’iy yang dikehendaki oleh penutur. Menurut as-Sakkâki, yang dikehendaki oleh pembacaan model ma’âni bukan pada struktur kalimat itu sendiri, akan tetapi terdapat pada “makna” yang terkandung dalam sebuah tuturan. Jadi yang terpenting dalam pembacaan ma’ani adalah pemahaman pendengar terhadap tuturan penutur dengan pemahaman yang benar, bukan pada tuturan itu secara otonom
Adapun objek kajian Ilmu Ma’ani adalah tema-tema berikut,
a) Kalâm Khabar
b) Kalâm Insya’
c) al-Qishr
d) Îjaz, Ithnab
e) Musâwah.

DAFTAR PUSTAKA

 Banna’, Haddam. Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press.
 Hasyimi, Ahmad. Jawâhir al-Balâghah.Beirut : Dâr al-Fikri. 1994.
 Jarim, ‘Ali dan Musthafa Amin. Al-Balâghah al-Wadhihah. Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. 1977.
 Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Cet. XIV. 2004.
 Sakkâki, Yûsuf ibn Abi Bakar Ya’kub ibn ‘Ali. Miftâhul ‘Ulûm. Beirut : Dâru al-Kutub al-’Ilmiyyah. Cet. II. 1987.

Fungsi dan Peran Guru Dalam Keberhasilan Ujian Nasional

Foto010Ujian Nasional ; Antara Guru dan Tentor

Ujian Nasional atau disingkat UN merupakan ‘tradisi’ dari budaya pendidikan Indonesia yang telah mendarah daging, walaupun dari tahun ke tahun terjadi perubahan labeling seiring dengan pergantian menteri yang bersifat politis dan pergantian kurikulum yang bersifat retorik belaka. Sebab faktanya bergantinya menteri dan kurikulum tak lantas merubah ‘derajat’ pendidikan Indonesia. Semuanya hanya bersifat seremonial saja, karena pergantian eksekutor tak dibarengi dengan revolusi regulasi yang lebih kompetitif, tak pula dibarengi dengan eskalasi sistem yang renponsif terhadap problematika pendidikan Indonesia.

Kembali kepada Ujian Nasional di Indonesia, terlepas dari carut marutnya sistem pendidikan dalam level grassroot, saat ini UN tengah menjadi sorotan banyak pihak, tak ayal pelbagai persiapan dan cara pun dilakukan dan disiasati, mulai dari cara yang paling halal sampai dengan cara yang paling haram, cara yang paling untung dan cara yang paling buntung. Karena kelulusan UN sampai saat ini masih dianggap satu-satunya jalan mencapai keberhasilan belajar seseorang. Dan jalan lain hanyalah jalan pelengkap saja dalam mencapai kesuksesan hidup manusia.

Suksesi UN tersebut melibatkan siswa, orang tua, dan sekolah. Siswa merupakan subjek yang memiliki peran sentral dalam UN tersebut, keberadaan sekolah dan harapan orang tua tidak akan berhasil kalau siswa tidak mau mengikuti ujian. Orang tua yang memiliki harapan anaknya agar lulus ujian, tidak akan tercapai manakala anaknya tidak menjadi siswa sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Yang paling mungkin ‘dianulir’ adalah keberadaan sekolah yang manginginkan siswanya 100% lulus bisa tetap mengadakan Ujian Nasional, jika ia mampu mensubsidi siswa yang orang tuanya tidak mampu membayar Ujian Nasional.

Setelah urusan pembiayaan selesai, barulah kemudian ditentukan langkah-langkah yang dilakukan baik oleh siswa, orang tua, dan sekolah. Siswa mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan belajar ‘lebih rajin’ agar dapat lulus Ujian Nasional. Orang tua di rumah berusaha keras mendorong anaknya belajar dengan tekun, tak jarang diming-imingi dengan hadiah-hadiah yang menggiurkan. Dan sekolah dengan guru sebagai eksekutor di lapangan tentu saja berusaha memberikan ‘service excellent’ kepada siswanya, di antaranya dengan ‘strategi jitu lulus ujian’ berupa tambahan jam belajar (biasa disebut les atau pengayaan), meskipun kemudian diketahui ada variabel cost yang dirogoh dari kocek orang tua untuk jam tambahan tersebut.

Namun, yang paling menarik dari fenomena Ujian Nasional tersebut dan sering terlupakan dari kesuksesan Ujian Nasional atau keberhasilan belajar seseorang adalah tentor-tentor yang sudah sekian lama menjadi alternatif orang tua dalam proses pendidikan anak-anaknya, fenomena ini telah lama terjadi terutama di perkotaan yang mobilitas kerja manusianya tergolong tinggi, sehingga orang tua kurang bisa memberikan waktu yang cukup dalam pendampingan belajar anak-anaknya.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, fakta di lapangan menunjukkan bahwa orang tua lebih percaya kepada tentor-tentor tersebut dalam proses pendampingan belajar anak-anaknya, baik tentor yang berafiliasi pada sebuah lembaga belajar (bimbel) tertentu, atau tentor-tentor yang dipanggil khusus oleh orang tua karena adanya kedekatan (proximity) antar keduanya. Realitas ini penulis alami selama kurang lebih tiga tahun penulis menjadi tentor untuk beberapa anak yang akan menghadapi Nasional dimana dalam waktu yang bersamaan, penulis juga menjadi pengajar di beberapa sekolah/madrasah.

Ditelisik melalui perspektif profesionlisme guru (karena tentor dan guru pada hakikatnya memiliki fungsi yang sama dalam proses pembelajaran). Dapatlah ditemukan beberapa jawaban mengenai fenomena ‘tentorku malaikatku’ tersebut. Perbandingan—untuk tidak menyebut perbedaan—model pembelajaran antara kedua pengajar tersebut adalah sebagai berikut : Pertama, pembelajaran guru di sekolah cenderung bersifat umum, artinya pembelajaran terfokus pada semua siswa, sehingga siswa yang memiliki keterbatasan kemampuan menyerap informasinya (intelegensi) sulit untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal. Sedangkan pembelajaran tentor lebih cenderung bersifat spesifik, sehingga siswa yang memiliki keterbatasan tersebut di atas dapat langsung melakukan feed back kepada tentor baik berupa pertanyaan atau penjelasan ulang mengenai materi (subject matter) yang tengah dibahas.

Kedua, waktu yang diberikan oleh sekolah sangatlah terbatas, tidak sesuai dengan banyaknya materi yang dibahas, meskipun adanya tambahan jam belajar yang dilakukan pasca pembelajaran normal selesai. Hal ini bisa dimaklumi, karena waktu belajar di sekolah terbatas. Sebaliknya, tentor memiliki waktu yang cukup luas untuk melakukan bimbingan belajar terhadap siswanya. Ia bisa datang kapan saja, dan bertemu dengan siswanya dimana saja, dan kapan pun mereka mau. Karena memang kontrak belajar (learning contract) lebih fleksibel, sehingga intensitas pertemuan dapat diatur sesuai kesepakatan.

Ketiga, guru terutama yang berstatus PNS, rata-rata sudah berusia di atas tiga puluh tahun dan biasanya berkeluarga, sehingga mereka sudah merasa ‘nyaman’ dengan apa yang dianugerahkan Tuhan pada mereka, tak perlu harus bersusah payah mendesain pembelajaran, berinovasi, dan berkreasi dalam menciptakan classroom management yang tepat dan akurat sesuai dengan ciri, bakat, dan karakteristik siswa. Sedangkan sebagian besar tentor adalah mereka yang masih berstatus mahasiswa atau keluarga muda yang masih mencari ‘identitas diri’ dengan berusaha mencurahkan tenaga dan pikirannya agar bisa bertahan hidup (survive). Sehingga mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan inovasi, kreasi, dan desain pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. Meskipun tak jarang kadang tentor juga merupakan guru di sebuah lembaga pendidikan formal (sekolah) atau pun sebaliknya.

Jika memang demikian faktanya, lalu dimanakah letak relevansi antara program sertifikasi dengan profesionalisme guru. Padahal pemerintah melalui APBN telah merogoh kocek yang lumayan besar untuk pembiayaan program tersebut. Yang jika dipergunakan untuk membeli kerupuk saja mungkin bisa untuk membuat pulau baru yang kemudian kita namakan pulau kerupuk. Atau jika dana tersebut digunakan untuk menyekolahkan (baca; kuliah) putera-puteri terbaik bangsa, maka bisa meluluskan beratus atau beribu manusia cerdas dan berkualitas yang kelak dapat menjadi garda depan dalam akselerasi pendidikan Indonesia.

Oleh karena itu, dalam mengahadapi Ujian Nasional tahun ini dan seterusnya, sudah saatnya para guru di sekolah ‘berkaca’ pada tentor dalam memberikan layanan terbaik kepada siswanya dan telah turut serta dalam mencerdaskan bangsa. Selanjutnya perlu diingat bahwa setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yakni kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Terlebih para guru yang sudah tersertifikasi dan yang tengah mengajukan sertifikasi.

Tujuh Tahap Pendidikan Al-Quran

Tujuh Tahap Pendidikan Al-Quran

Ditulis oleh Muhamad Firdaus

1. Tartil

Yakni membaca alquran dengan tertib. hak huruf dibaca sesuai dengan makhraj dan sifatnya, sesuai dengan kaidah tajwid.

Allah Ta’ala berfirman ” dan bacalah alquran dengan tartil…”. mari laksanakan perintah Allah Ta’ala tersebut.

Funtahsin ngaji itu asyik

2. Taghanna

Setelah kita dapat membaca alquran dengan tartil atau sesuai dengan kaidah tajwid. maka tahapan berikutnya ialah kita menghiasinya dengan suara merdu. Merdu disini bukan menuntut merdu suara yang bagus, tetapi lebih kepada ketaatan kita kepada kaidah tajwid dalam membacanya. tetapi bila keduanya–suara yang bagus dan sesuai tajwid–maka tentu lebih nikmat membaca dan mendengarnya. Jadi bila kita membaca tartil sesuai kaidah tajwid, otomatis bacaan akan terlagukan dengan sendirinya. Jangan sampai terbalik, karena mengikuti lagu kaidah tajwid kemudian dilanggar. maka melagukan alquran sering disebut MUROTTAL,artinya membaca dengan tartil.

3. Tafkhiim

Tahapan setelah kita mampu membaca alquran dengan tartil dan berirama, maka fase pembelajaran quran berikutnya adalah tafkhiim. tafkhiim secara sederhana berarti memahami. Apabila kita memahami apa yang kita baca tentu saja, kita akan semakin menikmati bacaan kita. karenanya upaya memahami alquran harus ditempuh setelah kita mampu membaca alquran dengan tartil dan teratur. pada tahap ini orang akan asyik membaca alquran–funtarjim

4. Tahfiizh

Tahfiizh atau menghafal alquran adalah bagian penting dari wasilah pemeliharaan Alquran oleh Allah Ta’ala. Bila kita telah mampu membaca dengan tartil, melagukannya, dan memahami isi kandungan Alquran, maka menghafal alquran akan menjadi lebih mudah. karena kita menghafal sesuatu yang kita pahami. pada tahap ini seseorang sudah asyik membaca alquran–funtahfidz.

5. Takriir

Alquran sangat berbeda dengan koran. Berita, Kisah, perintah dan larangan dalam alquran bersifat langgeng dan universal. Substansi maupun bacaannya melintas buana dan samudera, meninggi ke luar angkasa dan mendalam hingga ke inti bumi. karenanya semakin sering dibaca, semakin sering diulang akan membuat seseorang semakin ketagihan membaca alquran. terlebih bila ingin menghafal alquran. Untuk menjaganya biasanya ditempuh dengan sering-sering mengkhatamkan alquran, beberapa mengamalkan 5 juz sehari atau sebulan 4 kali khatam. Pada muslim biasa pun dianjurkan mengkhatamkan alquran 1 kali dalam sebulan. Oleh karena itu pengulangan alias takriir sangat penting sekaligus membuktikan keasyikan kita bersama alquran.

6. Tabki

Pernah mendengar para imam yang membaca alquran dengan murottal, membacanya sambil menangis. atau mungkin Anda punya pengalaman membaca alquran sambil menangis. atau Imam di masjid Anda pernah membaca alquran di dalam shalat sambil menangis. Menangis adalah ekspresi jiwa yang mendalam. Kemampuan kita menangis ketika membaca alquran menunjukkan keterlibatan jiwa kita membersamai bacaan alquran kita. ketahuilah bahwa dalam banyak riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sering membaca alquran sambil menangis baik di luar shalat maupun ketika sedang shalat. bahkan beliau pun sering menangis gara-gara mendengar sahabat radiyallahu anhum membaca alquran. artinya membaca alquran sambil menangis adalah bagian dari sunnah Nabi dan perlu kita mencontohnya. bila tidak bisa membaca alquran sambil menangis, maka menangislah karena tidak bisa membaca alquran sambil menangis.

7. Tathbiiq

Tathbiiq atau praktek adalah muara kemampuan kita dalam membaca alquran. sebagaimana diturunkannya, Alquran selain sebagai bacaan (QS Al ‘Alaq 1-5), ia juga menjadi petunjuk hidup dari manusia, penjelasan serta pembeda antara yang haqq dan yang batil (QS Al Baqarah 185), Menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup dengan yaqin akan mengantarkan pada takwa (QS Al Baqarah : 2). Karenanya Praktek atau Tathbiiq dari ajaran alquran menjadi ujung atau muara dari bacaan alquran. bila ketujuh T ini ada dalam diri seorang muslim, maka niscaya ia akan bebas dari bahaya syirik, fasiq, munafiq apalagi kafir. Naudzubillah min dzalik.

 

Cara-cara mempelajari Al-Qur’an dengan Mujawwaz

Bagi seorang Qori’-Qori’ah dalam mempelajari Al-Qur’an tentunya memiliki cara-cara tersendiri :

1) Harus sering berolahraga secara intens dan istiqomqah.

2) Harus sering melatih nafas, agar nafasnya maksimal ketika menjadi seorang     Qori’ maupun Qori’ah.

3) Kita harus mengetahui tentang tausyih/lagu-lagu dasar dalam tilawatil qur’an (lagu bayyati, shoba, hijaz, rost, jiharka, nahawwand).

4) setelah itu, kita cobe dengan perlahan-lahan tapi pasti.

* Semoga bermanfaat*

Kisah Abdullah Bin Abbas, Sang Ulama Yang Cerdas

Ibnu Abbas adalah seorang yang di waktu kecil telah mendapat kerangka kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidupan dari Rasulullah saw.

 

Kendati kemudian ia ditinggal wafat Rasulullah masih dalam usia belasan tahun, Ibnu Abbas toh mampu berkembang menjadi insan pilihan. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasulullah.

Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutalib bin Hasyim, paman Rasulullah saw. Dari kecilnya, Ibnu Abbas telah mengetahui jalan hidup yang akan ditempuhnya, dan ia lebih mengetahuinya lagi ketika pada suatu hari Rasulullah menariknya ke dekatnya selagi ia masih kecil.

Sambil menepuk-nepuk bahunya Rasulullah mendoakannya, “Ya Allah, berilah ia ilmu agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya tawil.”

Kemudian berturut-turut pula datangnya kesempatan di mana Rasulullah mengulang-ngulang doa tadi bagi Abdullah bin Abbas sebagai saudara sepupunya itu. Dan ketika itu ia mengertilah bahwa ia diciptakan untuk ilmu dan pengetahuan.

Sementara persiapan otaknya mendorongnya pula dengan kuat untuk menempuh jalan ini. Ketika Rasulullah wafat umurnya belum lagi lebih tiga belas tahun, tetapi dari kecil tak pernah satu hari pun lewat, tanpa ia menghadiri majelis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkan.

Tekun menuntut ilmu

Dan setelah kepergian Rasulullah ke Rafiqul Ala, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari sahabat-sahabat Rasul yang pertama apa-apa yang luput didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah sendiri. Suatu tanda tanya (rasa ingin tahu) terpatri dalam pribadinya.

Maka setiap kedengaran olehnya seseorang yang mengetahui suatu ilmu atau menghafalkan hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang encer dan tidak mau puas itu, mendorongnya untuk meneliti apa yang didengarnya. Hingga tidak saja ia menumpahkan perhatian terhadap pengumpulan ilmu pengetahuan semata, tapi juga untuk meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya.

Pernah ia menceritakan pengalamannya, “Pernah aku bertanya kepada tiga puluh orang sahabat Rasul mengenai satu masalah.” Dan bagaimana keinginannya yang amat besar untuk mendapatkan sesuatu ilmu, digambarkan sebagai berikut “Tatkala Rasulullah wafat, kukatakan kepada salah seorang pemuda Anshar: “Marilah kita bertanya kepada sahabat Rasulullah. Sekarang ini mereka hampir semuanya sedang berkumpul?”

Jawab pemuda Anshar itu, “Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kau lihat banyak terdapat sahabat Rasulullah?” Demikianlah mereka tak mau di ajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah.

“Pernah aku mendapatkan satu hadits dari seseorang, dengan cara kudatangi rumahnya. Saat itu ia kebetulah sedang tidur siang. Kubentangkan kainku di muka pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu kepadaku, sampai akhirnya ia bangun dan keluar mendapatiku. Maka katanya: “Hai hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu?” “Tidak!” ujarku, “bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda!” Kemudian kutanyakan sebuah hadits dan aku belajar daripadanya!”

Pemuda Abbas yang agung ini bertanya dan bertanya terus. Lalu dicarinya jawaban dengan teliti, dan dikajinya dengan seksama dan dianalisanya dengan fikiran yang brilian. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya berkembang dan tumbuh. Hingga dalam usianya yang muda belia telah cukup dimilikinya hikmat dari orang-orang tua, dan disadapnya ketenangan dan kebersihan pikiran mereka, sampai-sampai Amirul muminin Umar bin Khaththab ra menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap urusan penting.

Pada suatu hari ditanyakan kepadanya “Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini?” Jawabnya, “Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir!”

Maka dengan lidahnya yang selalu bertanya dan fikirannya yang tak jemu-jemunya meneliti, serta dengan kerendahan hati dan kepandaiannya bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai manusia pilihan.
Sahabat Saad bin Abi Waqqas melukiskannya begini:

“Tak seorangpun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan lebih banyak dapat menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari Ibnu Abbas! Dan sungguh, kulihat Umar memanggilnya dalam urusan-urusan pelik. Padahal sekelilingnya terdapat peserta Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya!”

Seorang muslim penduduk Bashrah (Ibnu Abbas pernah menjadi Gubernur di sana, diangkat oleh Ali) melukiskannya pula sebagai berikut: “Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara; menarik hati pendengar apabila ia berbicara, memperhatikan setiap ucapan pembicara, memilih yang teringan apabila memutuskan perkara dan menjauhi sifat mengambil muka, menjauhi orang-orang yang rendah budi, menjauhi setiap perbuatan dosa.
Di samping ingatannya yang kuat bahkan luar biasa, Ibnu Abbas memiliki pula kecerdasan dan kepintaran istimewa. Alasan yang dikemukakannya bagai cahaya matahari, menembus kalbu menghidupkan iman.

Dalam percakapan atau dialog, tidak saja membuat lawannya terdiam, mengerti dan menerima alasan yang dikemukakannya, tetapi menyebabkannya diam terpesona, karena manisnya susunan kata dan keahliannya berbicara.

Diplomat Imam Ali 
Ibnu Abbas telah lama ditakuti oleh kaum Khawarij karena logikanya yang tepat dan tajam. Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah percakapan yang mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan:

Tanya Ibnu Abbas, “Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali?” Ujar mereka, “Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya. Pertama dalam agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman “Tak ada hukum kecuali bagi Allah!”

Kedua, ia berperang tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka itu halal. Sebaiknya bila mereka orang-orang beriman maka haramlah darahnya!”

Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat Amirul Muminin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi orang-orang mukmin lagi, berarti ia kepala bagi orang-orang kafir!

Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas, katanya, “Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada manusia dalam agama Allah, apa salahnya? Bukankah Allah telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian membunuh binatang buruan, sewaktu kalian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewan yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hakim!” (QS.Al-Maidah: 95)

“Nah, atas nama Allah cobalah jawab: Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia demi menjaga darah kaum muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?”Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan bantahannya, “Tentang ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil Aisyah istri Rasulullah dan Ummul Muminin itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan?”

Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena malu, lalu menutupi muka mereka dengan tangan. Sementara Ibnu Abbas beralih kepada soal yang ke tiga, “Adapun ucapan tuan-tuan bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Muminin dari dirinya sampai selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan oleh Rasulullah di hari Hudaibiyah, yakni ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penulis: “Tulislah! Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah” Tiba-tiba utusan Quraisy menyela, “Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai Rasulullah, tentu kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak pula akan memerangimu! Maka tulislah: “Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah!” Kata Rasulullah kepada mereka, “Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tidak hendak mengakuinya!” Lalu kepada penulis surat itu diperintahkan, “Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis! Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah!”

Demikianlah dengan cara menarik dan menakjubkan berlangsung tanya jawab antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij. Belum lagi tukar pikiran selesai, dua puluh ribu orang di antara mereka bangkit serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Imam Ali!”

Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan semata, tapi ia memiliki pula kekayaan yang lebih besar lagi. Yakni etika ilmu serta akhlaq para ulama. Dalam kedermawanan dan sifat kepemurahannya, ia bagaikan Imam dengan panji-panjinya.

Disamping itu ia seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam atau kebencian kepada siapa juga. Keinginannya yang tak pernah menjadi kenyang ialah harapannya agar setiap orang, baik yang dikenal atau tidak, beroleh kebaikan.

“Setiap aku mengetahui suatu ayat dari kitabullah, aku berharap kiranya semua manusia mengetahui seperti apa yang kuketahui ini. Dan setiap aku mendengar seorang hakim di antara hakim-hakim Islam melaksanakan keadilan dan memutuskan sesuatu perkara dengan adil maka aku merasa gembira dan turut mendoakannya, padahal tak ada hubungan perkara antara aku dengannya. Dan setiap aku mendengar turunnya hujan yang menimpa bumi kaum muslimin, aku merasa berbahagia, padahal tidak seekorpun binatang ternakku yang digembalakan di bumi tersebut!” Demikian kata Ibnu Abbas perihal dirinya.· (Hidayatullah)

Abdullah Bin Abbas
Beliau adalah anak laki-laki dari paman Rasulullah Saw, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib Syaibah bin Hasyim. Namanya adalah Amr bin Abdul Manaf Bin Qoshay bin Kilab bin Murrah bin Kab bin Luay bin Ghalib bin Fihar al-Quraisyi al-Hasyimi al-Makki al-Amir. Beliau lahir di rumah Bani Hasyim pada th 3 sebelum hijrahnya Rasulullah Saw, dari seorang Ibu yang bernama Ummul Fadhl Lubabah binti Harits bin Hazn bin Bujair al-Hilaliyyah bin Hilal bin Amr. Ibnu Abbas dikaruniai anak yang paling besar bernama Abbas sehingga beliau juga dijuluki Abu Abbas sebagai kuniyahnya.

Ilmu dan kecerdasan
Keilmuannya yang dalam membuatnya banyak menyandang berbagai julukan dari orang-orang yang mengenalnya. Misalnya, Hibrul Ummah yang berarti pemimpin umat, Faqihul Ashr -orang yang paling pandai memahami agama dimasanya. Imam Tafsir, kemudian al-Bahr yang berarti lautan, hal ini karena beliau menguasai ilmu fiqih, tafsir dan tawil Quran. Dan masih banyak lagi julukan yang menghinggapi dirinya. Adapun yang paling menonjol dari beliau adalah dibidang tafsir, dan termasuk sahabat yang lebih pandai dalam bidang ini.

Keistimewaan yang dimiliki Ibnu abbas, tentunya tidak dapat terlepas dari doa Rasulullah Saw. Sebagaimana yang di ungkapkan sahabat Umar kepada Ibnu abbas, “Sesungguhnya suatu hari kami melihat Rasulullah Saw mendoakanmu kemudian mengusap kepalamu lantas berdoa, “Ya Allah faqihkan ia dalam masalah agama dan berilah ia pengetahuan dalam masalah tafsir”. Maka tidak mengherankan, jika banyak para sahabat yang menimba ilmu darinya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan, selalu merujuk dari al-Quran, jika ia mendapatinya. Apabila tidak ditemukan didalam kitabullah beliau menjawab sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, jika tidak mendapati al-Quran dan as-Sunnah, maka beliau pun mengutarakannya. Dan jika tidak ditemukan dalam dua rujukan ini, beliau merujuk pada perkatan sahabat Abu Bakar ataupun Umar, jika semua itu tidak ditemukan maka beliau berijtihad.

Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan semata. Namun beliau memiliki yang lebih daripada itu, yaitu etika ilmu serta akhlak yang luhur. Beliau juga seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam kebencian kepada siapapun juga. Salah satu kelebihan yang dimiliki sebagaimana telah beliau tuturkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra berkata, “Umar r.a, memasukkan saya dalam pasukan perang badar yang terdiri dari orang-orang tua, seakan-akan saya disejajarkan dengan mereka, kemudian ada seorang yang bertanya, “Kenapa pemuda ini dimasukkan dalam kelompok kita padahal kita juga mempunyai anak yang sebaya dengannya?”. Umar menjawab, “Itu menurut pendapat anda sekalian”.

Pada suatu hari Umar memanggil saya, dan saya datang bersama-sama dengan para sahabat lain, serta saya tahu bahwa umar memanggil saya hari itu adalah untuk menunjukkan kelebihan saya kepada mereka, kemudian umar berkata, “Apakah komentar anda terhadap firman Allah: “Apabila telah datang kemenangan dan pertolongan dari Allah?”(surat an-Nashr). Salah seorang diantara mereka menjawab, “Kami diperintah untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah bila kita mendapat pertolongan dan kemenangan”. Para sahabat yang lain terdiam semuanya, lantas Umar bertanya kepada saya, “Apakah komentarmu juga seperti itu wahai Ibnu Abbas?” Aku menjawab, “Tidak” Umar bertanya lagi, “Lalu bagaimana komentarmu?” Saya menjawab, “Itu adalah saat kewafatan Rasulullah Saw yang diberitahukan oleh Allah kepadanya.” Allah berfirman; “Apabila telah datang pertolongan dan kemenangan dari Allah, itu adalah suatu isyarat tanda dekatnya ajalmu wahai Muhammad, maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan memohonlah ampunan kepada-Nya, karena Dia adalah Dzat yang Maha Penerima Taubat” Kemudian Umar berkata, “Saya tidak tahu mengenai kandungan ayat ini melebihi apa yang kamu katakan” (HR Bukhari).

Selang beberapa bulan kemudian, benarlah seperti yang dikatakan Ibnu Abbas, Rasulullah Saw berpulang kerahmatullah. Ini adalah satu bukti kecerdasan yang dimiliki Ibnu Abbas dalam bidang tafsir, dan beliau juga seorang yang berfikiran sehat dan teguh memegang amanat.

Berpulang ke Rahmatullah.
Telah menjadi sunatullah, setiap insan tak dapat melepas diri dari ujian dan cobaan. Tak terkecuali Ibnu Abbas, dalam menikmati usia udzurnya, beliau mendapat cobaan dari Dzat yang Maha Kuasa, berupa lemah pandangan dan kedua penglihatannya.

Saat tertimpa musibah ini, datanglah sekelompok orang dari penduduk Thaif menghadap Ibnu Abbas, sambil membawa Ilmu buah karya beliau, seraya meminta agar beliau membacakannya. Permintaan itu menjadikan Ibnu Abbas bimbang. Lantas beliau berkata, “Sesungguhnya aku bimbang lantaran musibahku ini. Maka barangsiapa yang memiliki ilmu dariku, maka hendaknya ia bacakan dihadapanku. Sesungguhnya pengakuanku seperti bacaanku sendiri”. Kemudian sekelompok orang itupun membacakan buah karya itu di hadapan beliau.

Pada th 78 H, Ibnu Abbas wafat di Thaif dalam usia 81 th. Yang menshalati beliau dan sekaligus menjadi Imam, adalah Muhammad bin Hunaifah, beliau pula yang memasukkan ke ssdalam kuburnya.

Disebutkan pula dalam Siyar al-Alam an-Nubala. Hadits yang diriwayatkan Thabrani menerangkan, bahwa Ibnu Jubair menceritakan, saat Ibnu Abbas wafat di Thaif, kami menyaksikan jenazahnya, maka tiba-tiba kami melihat burung putih datang yang tidak diketahui bentuk dan wujudnya. Kemudian masuk kedalam keranda mayat Ibnu Abbas. Kami memandang keranda itu dan berfikir apakah burung tersebut akan keluar, ternyata burung tersebut tidak diketahui keluarnya dari keranda mayat itu. Dan saat mayat telah dimakamkan tiba-tiba ditepi kuburan Ibnu Abbas terdengar suara bacaan ayat al-Quran surat al-Fajr 27 -30.

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku” (QS al-Fajr 27-30).

Suara itu tidak diketahui siapakah yang membacanya?wallahu Alam.